Tampilkan postingan dengan label 역사적인 장소 (Historical Place). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 역사적인 장소 (Historical Place). Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2011

Daemokjang, Seni Memahat Kayu


Dari tiga daftar warisan kebudayaan yang diumumkan sebagai kekayaan budaya Korea terbaru, saya paling tertarik dengan seni Daemokjang atau seni memahat dan melukis kayu. Bagunan sederhana seperti Hanok (rumah tradisional Korea) selau memakai seni Daemokjang.

Sebenarnya, Daemokjang khusus digunakan bagi para pemahat kayu yang kayunya digunakan untuk membangun rumah. Apabila dilihat lebih dekat, bagian yang paling unik menurut saya adalah atap kayu dan kayu penyangganya.

Saya menduga, Daemokjang inilah yang diterapkan dalam seni menggambar dan memahat kayu penyangga atap. Kayu yang digunakan untuk menyangga biasanya digambar lebih dulu, kemudian diwarnai. Biasanya warna didominasi merah dan bermotif naga langit.

Daemokjang ini sangat berperan besar dalam menentukan keindahan Hanok. Apalagi atap Hanok tidak seperti atap kebanyakan. Bukan membentuk prisma, atap Hanok malah melengkung ke atas. Semakin tinggi status bangunan, maka semakin besar sudut lengkungnya. Lihat saja lengkung atap Istana Gyeongbok atau kuil-kuil Budha. Terkadang para seniman Daemokjang ini menambahkan ornamen patung monyet di tiap-tiap ujungnya.

Jumat, 13 Mei 2011

Semangat Nasi Kepal Warga Gwangju

Masyarakat Gwangju, Korea Selatan, adalah masyarakat yang besar karena pergerakan demokrasi. Di tempat ini, pada 18 May 1980 terjadi gerakan rakyat melawan pemerintah secara besar-besaran. Saat itu, warga Gwangju menentang pasukan militer di bawah pimpinan Jenderal Cheon Do Hwan, dan Presiden Roh Tae Woo yang akan memberlakukan Konstitusi Yushin (Martial Law) di Gwangju. Akibatnya sekitar 660 masyarakat sipil tewas diterjang timah panas saat melakukan demo di jalanan utama

Kini penduduk Gwangju memiliki tradisi sendiri dalam menyebarkan semangat dan napak tilas gerakan 18 May. Setiap peringatan itu selalu ditandai dengan berbagai festival yang menggambarkan perjuangan dan kejadian berdarah di Gwangju. Mereka sekuat tenaga untuk membantu satu sama lain yang mengalami kesulitan. Salah satu bentuk kepedulian dan bantuan adalah membagikan "nasi kepal" kepada seluruh warga Gwangju.

Keluarga-keluarga dengan perekonomian yang tergolong mampu memasakkan "nasi kepal" untuk warga satu kota Gwangju. Keluarga yang kurang mampu bertugas untuk membagikan nasi kepal ini saat festival. Mereka memastikan tidak ada satupun warga yang terlewat mendapatkan "nasi kepal" ini.

Tradisi ini amat dijaga oleh warga Gwangju, karena "Nasi Kepal" adalah lambang perjuangan mereka saat pergerakan. Para pendahulu mereka yang berperang melawan militer memasak "nasi kepal" untuk ransum para pejuang. Padahal saat itu, Gwangju merupakan kota termiskin di Korea Selatan. Tapi kini, setelah perjuangan 18 May terjadi, Gwangju menjadi kota termaju dari 5 kota terbesar di Korea. Bahkan, Gwangju memiliki bandara internasional sendiri.

Satu tokoh terkenal yang lahir di kota ini adalah Presiden Kim Dae Jung. Saat pergerakan di Gwangju terjadi, Dae Jung-lah orang yang memimpin perlawanan baik secara gerilya maupun politik terhadap Jenderal Cheon Doo Hwan dan Presiden Roh Tae Woo. Ia hampir dihukum mati dan dibunuh dua kali oleh rezim. Setelah perang sipil dan militer di Gwangju berakhir, Dae Jung naik menjadi Presiden.

Di bawah kepemimpinan Kim Dae Jung, selama dua periode, Korea Selatan dan Korea Utara hampir saja mengakhiri perang saudara. Dae Jung-lah satu-satunya presiden Korea Selatan yang mampu membujuk Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il untuk duduk satu meja dan melakukan perundingan. Tidak heran bila Ia diganjar nobel perdamaian karena kebijakan "Sunset Policy" untuk saudara tuanya Korea Utara.

Selasa, 18 Januari 2011

Cheomseongdae Si Menara Penangkap Bintang


Kembali menceritakan Gyeongju, kota tua tempat kerajaan Silla pernah berkuasa terdapat menara pengamat bintang tertua di Asia Timur bernama Cheomseongdae. Dibangun saat pemerintah Ratu Seondeok tahun 632-649Masehi. Menara ini membantu petani mengamati pergantian musim, berdasarkan perubahan formasi bintang.

Dilihat dari mata biasa, situs sejarah nomor 33 yang didaftarkan ke UNESCO World Herritage oleh pemerintah Korea ini tampak biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa selain bentuknya yang seperti vas bunga. Tapi bila dihitung secara seksama, jumlah batu yang disusun tanpa perekat itu memiliki konstruksi yang simetris hingga berdiri kokoh setinggi 9,4 meter.

Keunikan lain, jumlah susunan batu melingkar di bagian atas bangunan ini mencapai 27 buah. Susunan itu diasosiasikan sebagai urutan Ratu Seondeok, sebagai pemimpin ke 27 Dinasti Silla. Sedangkan secara vertikal, dari tengah ke bawah, 12 batu besar yang menjadi pondasi bangunan itu diasosiasikan sebagai jumlah tahun dalam perhitungan kalender Cina.

Menurut kitab Sejarah Samguk Sagi dan Samguk Yusa, Ratu Seondeok merupakan pemimpin perempuan pertama Korea dan menjalankan pemerintahan berdasarkan ilmu pengetahuan. Di jaman Ratu Seondeok perhitungan ilmu alam diterapkan dalam mengolah lahan pertanian.

Maka sejak dibangun menara pengamat bintang itu, hasil pertanian di Gyeongju melimpah ruah. Hingga sekarang, pertanian menjadi sumber mata pencarian utama masyarakat Gyeongju, selain industri pariwisata.

Jumat, 12 November 2010

Sejong dan Istana Langit


Matahari di Seoul, bersinar gahar, menciptakan warna putih di tengah lapang. Sejumlah anak muda dan fotografer berhamburan di depan taman Sejong. Kebanyakan sibuk mengambil gambar patung besar Raja Sejong yang sedang duduk di atas kursi kekaisarannya.

Patung itu berada di pusat kota Seoul. Tepatnya berada pada titik persilangan antara Istana Gyeongbok di sebelah utara, Kedutaan Amerika di sebelah barat, Gedung Sejong Center di sebelah selatan, dan Center Government Complex Anex di sebelah barat.

Statuta Raja Sejong ini dibangun Pemerintah Korea untuk menghormati jasanya dalam penciptaan Hangul. Huruf yang hingga kini digunakan baik di Korea Selatan maupun Korea Utara. Museum Raja Sejong yang dibangun di bawah Sejong Park secara gratis menawarkan teknologi yang mempermudah mengingat sejarahnya.

Mulai dari film yang menceritakan perjuangan Raja Sejong menemukan huruf Hangul, hingga lukisan Raja Sejong yang dapat berbicara. Lukisan itu dibuat animator Korea lengkap dengan jubah, mahkota dan kursi kekaisaran. Sejong seolah-olah hidup, memiliki sorot mata, dan berkata-kata.

“Bahasa bangsa Han berbeda dengan bahasa bangsa Cina, huruf Hanja tidak sesuai dengan pengucapan bangsa Han, karena itu, rakyat tercinta saya yang belum bisa membaca tidak bisa menuangkan perasaan mereka ke dalam tulisan,” ucap Raja Sejong dalam sebuah lukisan tiga dimensi yang seolah hidup.

Lahir di tahun 1397, Sejong yang menjadi raja ke-4 di Dinasti Joseon khawatir rakyatnya tidak bisa mengekspresikan perasaan melalui huruf Hanja, huruf Cina yang biasa digunakan warga Korea saat itu untuk menulis. Kata-kata dalam lukisan hidup Raja Sejong itu merupakan pidato yang diucapkan Sejong saat pengesahan huruf Hangul di tahun 1443.

Dalam museum itu juga diceritakan bagaimana Sejong menciptakan huruf Hangul dengan meneliti fonetika dan cara pengucapan bahasa Korea oleh rakyatnya. Sejong kemudian menciptakan penampang kerongkongan manusia dari kayu, yang menggambarkan secara detail analogi dari kerongkongan dan pita suara.

Sejak itulah Raja Sejong tidak kesulitan mengidengtifikasi suara apa yang keluar dari mulut rakyatnya, dan diwujudkan dalam satu bentuk aksara. Misalnya ketika mengambil aksara Ka, sejong menggambarkannya dengan huruf berbentuk alur kerongkongan manusia. Alasannya suara Ka keluar dari kerongkongan dan langit-langit mulut.

Selain lukisan hidup Sejong, ada pula permainan game di museum tersebut yang menggunakan teknologi tiga dimensi. Permainan game itu berupa mengayuh perahu yang menceritakan peperangan Panglima Angkatan Laut, Yi Sun Sin melawan angkatan laut Jepang dengan kapal kura-kuranya.

***

Waktu menunjukkan pukul 14.00 waktu Seoul. Sudah saatnya penjaga Istana Gyeongbok bertukar tugas jaga. Lima belas orang pengawal berpakaian merah-biru-kuning bersiap melakukan apel. Sebelum ganti jaga mereka wajib patroli keliling istana dengan berbaris rapi, sambil memainkan musik tradisional Korea, Nongak Nori.

Irama musiknya tidak teratur, tapi langkah-langkah penjaga istana itu betul-betul rapi. Tidak ada satupun formasi yang terselip dari langkah mereka. Ekspresi peniup Daegeum (suling besar), pemukul Pungmul Janggo (genderang berbentuk jam pasir), dan Jing (Gong) semuanya sama. Rata, tidak ada satupun yang tersenyum.

Sekilas mata memandang, para penjaga istana terlihat sudah tua. Namun ketika beberapa orang sudah berganti kostum, mereka terlihat sama sekali berbeda. Penjaga istana itu adalah anak-anak muda berusia 20-30 tahun. Rupanya mereka berdandan dengan kumis-jenggot tempelan, serta baju yang berlapis-lapis agar terlihat lebih tua.

“Menjadi penjaga istana ini adalah kerja sampingan saya selain kuliah,” ujar salah satu penjaga istana bernama Han. Menurut Han, menjadi penjaga istana menghasilkan uang yang tidak banyak. Tapi keuntungan menjadi penjaga istana, dapat mengetahui lebih banyak soal sejarah dan budaya tradisional Korea.

Melamar segabai penjaga istana menurut Han tidak mudah. Ada persyaratan tinggi dan berat badan yang harus dipenuhi, layaknya seleksi militer. “Minimal tinggi badan harus 185 centimeter dengan berat proporsional,” ujarnya.

Kesehatan fisik dan mental penjaga istana juga harus di atas rata-rata. Meski tidak dituntut untuk berperang atau menjaga istana dalam arti sebenarnya, tapi para penjaga ini diwajibkan berdiri berjam-jam tanpa boleh bergerak sedikitpun. “Harus diam, menggaruk pun hanya boleh kalau terpaksa,” ujar Han.

Han mengaku, yang paling sulit dilakukan adalah harus berdiri diam, sementara pengunjung perempuan yang seusia dengannya mencoba menggoda ketika mengambil foto.” Padahal tidak diperbolehkan menyentuh penjaga istana dan ada petugas yang bekerja untuk memperingatkan hal itu ,” kata Han. “Namun masih saja ada yang mencoba bergelayut manja” tambah Han setengah tersenyum.

Kerja magang menjadi penjaga istana merupakan salah satu program pemerintah Korea Selatan melestarikan kebudayaan tradisional dan sejarah Istana Gyeongbok kepada anak muda di Seoul. Dampak globalisasi di Seoul menggeser sedikit cara berpikir muda-mudi di kota yang tidak terlalu heterogen itu. “Sekarang anak muda di Seoul lebih senang budaya Amerika dan Eropa, dari pada budaya sendiri,” ujar seorang Kakek bernama, Shin Hyun Jun.

Kehidupan muda-mudi Seoul yang simpel dan aktif memang membuat jarak dengan kebudayaan tradisional Korea yang cenderung ribet. Inilah yang dirasakan salah satu Mahasiswi Chonnam University, bernama Lynn Jong. Ia termasuk salah satu gadis yang paling enggan memakai pakaian tradisional Hanbok.

Lynn beralasan harga Hanbok mahal sekali. Satu set bisa mencapai 400 ribu Won. “Kalau aku lebih memilih tidak punya Hanbok, dari pada menghabiskan uang yang dikumpulkan berbulan-bulan, hanya untuk pakaian yang belum tentu setahun sekali dipakai, sudah itu dipakainya susah sekali, berlapis-lapis,” ujar Lynn.

Toh pemerintah Korea tidak kekurangan usaha untuk mengenalkan budaya tradisional Korea untuk anak muda di Seoul. Selain program magang sebagai penjaga istana, kunjungan gratis ke istana ,dan foto-foto pakai hanbok menjadi promosi paling moncer.

Lagipula, saat ini Istana Gyeongbok menjadi salah satu tempat pilihan paling romantis bagi muda-mudi Seoul untuk memadu kasih. Apalagi di depan salah satu bangunan Gyeongbok ada pendopo Hyangwonjeong, yang dikelilingi taman air , jembatan tua, dan pepohonan teduh. Padahal tempat itu tertutup untuk umum, tapi tetap saja banyak sekali pasangan yang nongkrong di situ.

Larangan itu sebenarnya karena jembatan melintang ke Hyangwonjong sudah sangat tua. Istana Gyeongbok sendiri dibangun tahun 1394 di atas lahan seluas 410 ribu meter persegi. Gyeongbok berarti Istana yang mendapat berkah dari langit. Istana ini dibangun saat Raja Taejo dari dinasti Joseon memerintah.

Istana ini adalah satu-satunya Istana Kerajaan Korea yang sejumlah bangunannya selamat dari aksi bakar-bakaran Jepang. Saat itu banyak sekali situs bersejarah di Korea yang dibakar Jepang dengan tujuan menghapus jejak Dinasti Joseon.

Keluarga kerajaan terakhir yang menempati istana ini adalah Raja Gojong dan Ratu Myeongseong.Saat itu, Ratu Myeongseong yang ikut menjalankan pemerintahan tidak pernah mau menurut pada Jepang. Akhirnya pada tahun 1895 ia dibunuh oleh intelijen Jepang. Usai insiden itu, Raja Gojong dan keluarga kerajaan lain tidak pernah balik lagi ke istana Gyeongbok.

Istana ini memiliki enam gerbang utama. Gwanghwamun, sebagai gerbang selatan. Heungnyemun dan Geunjeongmun sebagai gerbang dalam, Sinmumun sebagai gerbang utara, Geonchunmun sebagai gerbang timur, dan Yeongchumun sebagai gerbang barat.

Secara tidak langsung, Korea yang juga pernah berada dibawah kekaisaran Dinasti Tang, Cina mengadopsi bentuk istana ini dari Kota Terlarang di Beijing. Hanya saja, Kota Terlarang lebih besar delapan kali lipat bila dibandingkan istana Gyeongbok.
Pemugaran pertama kali terhadap istana ini dilakukan di tahun 1989. Saat itu masih banyak bangunan di Istana Gyeongbok yang belum terekonstruksi. Pemugaran kedua dilanjutkan pada tahun 1995. Saat itu dengan segala perdebatan , gedung Pemerintahan Jepang yang dulu sengaja dibangun di dalam kompleks Istana Gyeongbok langsung dihancurkan.

Di atas bekas lahan gedung Pemerintahan Jepang itulah rekonstruksi ulang gerbang dalam Istana Heungnyemun dilakukan. Dari hasil pemugaran terakhir tahun 2009, 40 persen bentuk asli Istana Gyeongbok sudah berhasil dibangun kembali. Hampir sama seperti 8 abad yang lalu, ketika Raja Taejo membangun 330 bangunan dan 5.792 kamar di dalamnya.

*tulisan ini pernah dimuat di Majalah Tempo loooh hehehee