Kamis, 16 Juni 2011

Seondeok, Ratu Bijaksana Yang Dianugrahi Kecerdasan dan Intelektualitas



Seondeok memerintah sebagai Ratu Silla, salah satu kerajaan di era tiga kerajaan, dari 632-647 masehi. Seondeok adalah Ratu ke 27 yang memerintah Silla, dan ratu pertama sepanjang sejarah berdirinya negara-negara Semenanjung Korea. Dia memerintah di akhir periode tiga kerajaan, ketika banyak sekali pemberontakkan terjadi diantara Silla, Baekje, Goguryeo dan juga Kerajaan Tang dari China. Ratu Seondeok menggunakan kecerdasan, kecerdikan dan pesonanya untuk memerintah kerajaannya, serta menjaga pertarungan berat dalam pertarungan dengan dua kerajaan lainnya. Selama pemerintahannya, ajaran Budha berkembang pesat, dan aliran Budha Zen (Seon) mulai diperkenalkan di Korea. Aspek Kebudayaan dan Pendidikan sangat diutamakan di bawah kepemimpinannya. Hanya perlu beberapa dekade untuk mengontrol Baekje dan Goguryeo. Hampir seluruh kerajaan di bagian selatan Semenanjung Korea berhasil diunifikasi untuk pertama kali hanya beberapa dekade setelah pemerintahannya.

Sejarah Seondeok,

Raja Jinpyeong dan penasihatnya menghadapi dilema yang dasyat saat harus memilih penerusnya. Jinpyeong yang sudah memerintah hampir 40 tahun lamanya., hanya memiliki 3 orang putri, dan tidak memiliki anak laki-laki sama sekali. Dia lalu mengirimkan permainsurinya ke kuil untuk dijadikan biarawati, dan mengawini selir lain, tetapi tidak juga berhasil memiliki seorang putra. Selama pemerintahan Dinasti Silla, hanya seseorang dari turunan "tulang murni" (Seonggol--Orang yang kedua orang tuanya juga turunan tulang murni) yang bisa memerintah kerajaan. Semakin bertambahnya waktu, semakin sulit untuk memenuhi persyaratan keturunan ini. Keturunan Seonggol dari waktu ke waktu mengalami penurunan secara bertahap.Hanya 3 putri Raja Jinpyeong dan sepupunya, Raja Seungman yang bisa memenuhi persyaratan ini. Kandidat yang paling memiliki kualifikasi dari golongan Jinggeol adalah Kim Youngchun, namun pada akhirnya Seondeok yang terpilih sebagai penerus Jinpyeong. Karena ia merupakan keturunan tulang murni dan disetujui oleh Raja Jinpyeong, serta para penasihatnya

Meskipun saat itu di Silla mengizinkan adanya penguasa perempuan, pada periode tertentu, seperti Ratu, serta kepala daerah perempuan, tetap saja, seorang Raja perempuan bukanlah suatu yang biasa. Perempuan Silla bisa menjadi kepala keluarga sejak keturunan garis matrilineal sama derajatnya dengan garis keturunan patrilineal dan saat dimana ajaran Konfusius yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinate di bawah laki-laki belum begitu populer di Korea. Sampai kemudian ajaran Konfusius berkembang di era Dinasti Joseon. Sehingga selama pemerintahan dinasti Silla, status perempuan relatif tinggi. Meskibegitu, perempuan belum pernah dipilih sebagai penguasa sebelumnya. Sebelum memilih Seondeok sebagai penerusnya, Raja Jinpyeong dan para penasihatnya melakukan perenungan yang mendalam. Hanya beberapa dekade setelah itu, tidak ada lagi calon dari golongan "Tulang Murni" yang bisa dipilih sebagai penguasa, dan singgasana kerajaan terpaksa turun kepada seorang laki-laki dari "Tulang Sampingan" (Jingol Man).

Pada tahun 634 Masehi, Seondeok menjadi penguasa tunggal Kerajaan Silla, dan memerintah hingga tahun 647 MAsehi. Dialah penguasa perempuan pertama dari Kerajaan Silla dan berbeapa saat kemudian digantikan oleh sepupunya Ratu Jindeok, yang memerintah hingga tahun 654 Masehi.

Seperti Ratu Elizabeth I dari Inggris, Seondeok mendorong kemajuan dalam bidang keilmuan, literatur, dan seni yang memiliki pengaruh kuat dalam budaya Silla. Dia juga mencorong perdamaian dan keseimbangan antara kelompok beragama di Korea yang beraneka ragam jenisnya.

Periode keseharian pemerintahan Ratu Seondeok banyak diwarnai kekerasan, pemberontakan, dan perang dengan kerajaan tetangganya, Baekje. Tidak sampai 14 tahun memerintah di Korea, ia menggunakan kekuasaanya, untuk meraih suatu keuntungan besar. Dia menjaga keberlangsungan dan hubungan baik dengan kerajaan China, dengan memberikan beberapa beasiswa dan mengirimkan rakyatnya untuk belajar di sana.

Seperti Dinasti Tang yang dipimpin oleh permaisuri Wu Zetian, ia tertarik pada Buddhisme dan memimpin pembangunan kuil Buddha. Ajaran Budha telah perlahan-lahan memperoleh popularitas pada abad itu dan digunakan sebagai dasar pemerintahan Seondeok. Selama periode ini beberapabiarawan Korea yang paling terkenal kembali dari belajar di China . Dua biarawan terkenal pada zaman ini adalah, Weon'gwang (圆 光 c. 570 -) dan Jajang (慈 藏). Sekembalinya, mereka dari China, mereka membawa banyak tulisan suci, dan aktif dalam penyebaran agama Budha di Korea.

Kedua biksu ini kemudian mengkonstruksi candi Budha. Jajang, yang adalah seorang sarjana terkenal yang cukup besar dalam bidang Gyeyul dan Weonyung, dia terkenal karena telah menjadi kekuatan utama dalam mendirikan sangha Korea (komunitas biara), dan membantu keberlangsungan lembaga yang mendukung ajaran Buddha, sebagai agama nasional. Hal ini semakin memperkuat dokumentasi, bahwa Ratu Seondeok mempelajari ajaran Budha dengan sangat serius dan ditahbiskan menjadi biarawati. Sejumlah besar kuil Budha ia bangun, dan diserahkan pengelolaannya kepada biarawan Jajang dan biarawan lain selama pemerintahannya.

Berikut ini beberapa bangunan di antara banyak bangunan yang dibangun Ratu Seondeok pada masa pemerintahannya :

1. Kuil Hwangnyongsa,
Dibangun setelah jaman Yi Ch'a-don, menghabiskan waktu 93 tahun dan bru selesai selesai pada tahun 645 Masehi, atau selama pemerintahan Ratu Seondeok. Hwangnyongsa dikenal sebagai pagoda kayu yang sangat besar dengan tinggi 224 meter dan luas 78 meter persegi. Pagoda ini terdiri dari delapan pilar batu setiap sisinya. Pagoda ini juga dibangun dengan 60 batu pondasi.Namun saat ini, tidak ada satupun yang tersisa kecuali batu fondasi, tetapi candi ini akan direkonstruksi seperti tampak sebenarnya.

2. Kuil Tongdosa,
Didirikan pada tahun kelima belas saat pemerintahan Ratu Seondeok oleh Biksu Jajang. Ia telah membawa kembali peninggalan Buddha dari Cina ketika dia kembali dari belajar disana. Kemudian mengabadikannya dalam relik yang ada dalam Kuil Tongdosa sebagai fokus utama dari keimanan. Hal ini membuat Tongdosa masuk bagian dari beberapa candi Budha yang tidak memiliki patung Buddha di ruang doa utamanya. Tongdosa dikenal sebagai salah satu dari tiga candi permata Korea, yang mewakili Sang Buddha. Kuil Buinsa sebuah kuil yang berafiliasi dengan Tongdosa dibangun pada abad ketujuh. Kuil ini dibangun saat pemerintahan Ratu Seondeok, di mana ritual peringatan untuk Seondeok masih diadakan setiap tahunnya.

3. Kuil Bomunsa
Dibangun di Pulau Seokmodo, Ganghwado Barat. Di pulau inilah dikatakan telah dibangun Kuil Bomunsa oleh Ratu Seondeok tahun 635. Juga dikatakan bahwa Candi Seondeoksa di Hallasan diberi nama yang berasal dari nama Ratu Seondeok. Selain itu juga ada kuil Mangwolsa yang dibangun pada tahun ke-8 pemerintahan Ratu Seondeok. Kuil ini menghadap ibukota Silla, dan dipercaya telah memberkati Dinasti Silla dengan kemakmuran. Legenda juga mengatakan bahwa Ratu Seondeok telah membangun Kuil Namyang untuk mengabadikan napak tilas Budha di Daegu.

4. Menara Pengamat Bintang, Cheomseongdae,
Sebuah observatori astronomi yang dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok. Selain minatnya dengan ajaran Buddha, Ratu Seondeok juga sangat tertarik dengan berbagai budaya daerah, termasuk astronomi dan budaya Cina. Dia memperkenalkan gaun pengadilan Cina dan adat istiadat dan mengirim siswa berbakat dan sarjana dari kerajaan untuk belajar di Cina. Silla juga membantu Korea memperkuat hubungan dengan Dinasti Tang dari Cina, sebuah aliansi yang nantinya akan membantu Silla memenangkanpertempuran melawan Baekje dan Goguryeo. eondeok juga mengirim banyak prajurit Hwarang muda untuk belajar seni bela diri di Cina. Para prajurit ahli inilah yang kemudian membantu Silla untuk mempertahankan diri dari penaklukkan Dinasti Tang Cina.

Seondeok sangat berminat dalam bidang astronomi dan membimbingnya untuk membangun sebuah Menara Bulan dan Bintang, atau yang dikenal dengan nama Cheomseongdae (ditahbiskan sebagai kekayan budaya nomor # 31). Cheomseongdae dibangun pada tahun 634 masehi, dan merupakan observatorium tertua yang ada di Asia Timur. Bangunan ini terletak di ibukota Silla tua di Gyeongju, Korea Selatan.

Bentuk observatorium dianggap mengikuti teori dasar Cina "bulat berarti surga, persegi berarti bumi", bangunan dengan 27 tingkat batu ini (Ratu Seonduk adalah penguasa ke-27 Dinasti Silla) memiliki empat set paralel batu untuk membuat struktur berbentuk persegi di atasnya. Ujung palang sejajar mencuat beberapa inci dari permukaan dan menjadi penyangga sebuah tangga yang digunakan untuk mencapai puncak. Ke-12 batu dasar berbentuk persegi panjang diposisikan mengelilingi observatori itu, tiga batu di setiap sisi, mewakili empat musim dan dua belas bulan dalam setiap tahun.

Legenda tentang Seondeok,
Dipercayai bahwa Seondok dipilih sebagai penerus ayahnya karena kecerdasan dan persepektif yang dimilikinya saat masih kecil. Salah satu cerita yang terkenal menggambarkan, bahwa ketika Seondeok berumur tujuh tahun, ayahnya menerima sebuah kotak biji pohon peony dari kaisar Cina. Hadiah itu disertai dengan sebuah lukisan bunga. Melihat gambar bunga itu, Seondeok mengatakan untuk sementara bunga itu kurang indah karena tidak harum. "Jika bunga itu harum, pasti akan ada kupu-kupu dan lebah yang mengelilingi bunga di lukisan itu." Hasil pengamatannya tentang kurang baiknya bunga peony itu terbukti benar. Inilah salah satu ilustrasi di antara banyak kecerdasan Seondeok, yang menegaskan kemampuannya untuk memerintah

Ada dua cerita lain tentang kemampuan Seondeok yang tidak biasa. Ia bisa melihat kejadian sebelum orang lain. Dalam salah satu cerita dikatakan bahwa Seondok pernah mendengar kodok putih berbunyi di sebuah kolam dekat Gerbang Jade pada musim dingin. Seondok menafsirkan suara kodok ini sebagai serangan yang akan datang dari Kerajaan Baekche di barat laut (katak bernyanyi dipandang sebagai prajurit marah, sedangkan warna putih melambangkan barat dalam astronomi Silla, barat berarti bukit perempuan yang ditafsirkan sebagai gerbang Jade, atau berhubungan dengan perempuan).

Ketika Seondeok mengirim beberapa jenderal ke Lembah Wanita, mereka berhasil menangkap 2.000 tentara Baekje yang sedang beristirahat. Cerita kedua menceritakan tengtang perkiraan Seondeok di hari yang tepat, bahkan sampai ke jam dan menitnya atas kematiannya sendiri di usia 37 tahun. Saat memperkirakan itu, Seondeok meminta dimakamkan di sebuah bukit yang dianggapnya sebagai kaki Nirwana, di bukit Namsan. Tak lama setelah itu, beberapa biksu menafsirkan sebuah cerita dari ajaran Budha, bila diperhitungkan bukit tempat Seondeok dimakamkan adalah benar, sebagai salah satu dari kaki nirwana.

Susunan Keluarga Seondeok.

Seondeok meninggal dunia tanpa memiliki penerus. Mahkota kerajaan pun beralih kepada sepupunya Ratu Jindeok, yang memerintah tahu 647-654 Masehi.

Salah satu saudari Seondeok, Putri Chonmyoung, menikah Kim Yongchun (김용춘, 金龙春), putra Raja Jinju (진지왕, 真 智 王) Silla, yang memerintah 576-579 Masehi. Karena Jinji telah digulingkan, anaknya Kim Yongchun tidak berhak menjadi raja. Namun, Kim Yongchun memiliki peringkat "Tulang Murni"atau Seonggol yang berarti suci. Selain itu ia menikahi seorang putri, yang juga Seonggol, sehingga putra mereka, Kim Chunchu (김춘추 金春秋) dilahirkan dengan keturunan Seonggol. Ketika Ratu Jindeok meninggal dunia tanpa ahli waris , Kim Chunchu-lah yang dipilih sebagai raja ke-29 Silla, dan dikenal sebagai Raja Taejong Muyeol (태종 무열왕 太宗 武 烈 王) yang memerintah pada 654-661 masehi. Ia diceritakan sebagai raja paling melegenda, karena berhasil memimpin penyatuan Tiga Kerajaan Korea.

Berdasarkan beberapa catatan lain, adik Seondeok telah menjadi Ratu Seonhwa dari Baekje. Ia menikahi Baekje Raja Mu (무왕; 武王), yang merupakan raja ke-30 Baekje. Seohwa kemudian melahirkan seorang putra yang nantinya menjadi raja besar yang memerintah kerajaan Baekje, bernama Raja Uija. Ia kemudian digulingkan oleh Silla yang beraliansi dengan Kerajaan Tang di tahun 680 masehi.

Jumat, 13 Mei 2011

Semangat Nasi Kepal Warga Gwangju

Masyarakat Gwangju, Korea Selatan, adalah masyarakat yang besar karena pergerakan demokrasi. Di tempat ini, pada 18 May 1980 terjadi gerakan rakyat melawan pemerintah secara besar-besaran. Saat itu, warga Gwangju menentang pasukan militer di bawah pimpinan Jenderal Cheon Do Hwan, dan Presiden Roh Tae Woo yang akan memberlakukan Konstitusi Yushin (Martial Law) di Gwangju. Akibatnya sekitar 660 masyarakat sipil tewas diterjang timah panas saat melakukan demo di jalanan utama

Kini penduduk Gwangju memiliki tradisi sendiri dalam menyebarkan semangat dan napak tilas gerakan 18 May. Setiap peringatan itu selalu ditandai dengan berbagai festival yang menggambarkan perjuangan dan kejadian berdarah di Gwangju. Mereka sekuat tenaga untuk membantu satu sama lain yang mengalami kesulitan. Salah satu bentuk kepedulian dan bantuan adalah membagikan "nasi kepal" kepada seluruh warga Gwangju.

Keluarga-keluarga dengan perekonomian yang tergolong mampu memasakkan "nasi kepal" untuk warga satu kota Gwangju. Keluarga yang kurang mampu bertugas untuk membagikan nasi kepal ini saat festival. Mereka memastikan tidak ada satupun warga yang terlewat mendapatkan "nasi kepal" ini.

Tradisi ini amat dijaga oleh warga Gwangju, karena "Nasi Kepal" adalah lambang perjuangan mereka saat pergerakan. Para pendahulu mereka yang berperang melawan militer memasak "nasi kepal" untuk ransum para pejuang. Padahal saat itu, Gwangju merupakan kota termiskin di Korea Selatan. Tapi kini, setelah perjuangan 18 May terjadi, Gwangju menjadi kota termaju dari 5 kota terbesar di Korea. Bahkan, Gwangju memiliki bandara internasional sendiri.

Satu tokoh terkenal yang lahir di kota ini adalah Presiden Kim Dae Jung. Saat pergerakan di Gwangju terjadi, Dae Jung-lah orang yang memimpin perlawanan baik secara gerilya maupun politik terhadap Jenderal Cheon Doo Hwan dan Presiden Roh Tae Woo. Ia hampir dihukum mati dan dibunuh dua kali oleh rezim. Setelah perang sipil dan militer di Gwangju berakhir, Dae Jung naik menjadi Presiden.

Di bawah kepemimpinan Kim Dae Jung, selama dua periode, Korea Selatan dan Korea Utara hampir saja mengakhiri perang saudara. Dae Jung-lah satu-satunya presiden Korea Selatan yang mampu membujuk Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il untuk duduk satu meja dan melakukan perundingan. Tidak heran bila Ia diganjar nobel perdamaian karena kebijakan "Sunset Policy" untuk saudara tuanya Korea Utara.

Rabu, 16 Maret 2011

Raja Bersosok Langit (I)


Sejong The Great dan Penciptaan Hangul

Raja Sejong dari Korea adalah raja multi talenta yang hampir memiliki semua kemampuan seorang sempurna seorang Raja. Pemimpin keempat semasa pemerintahan Dinasti Joseon ini dipercaya rakyatnya sebagai Raja yang diutus langit. Tidak hanya pandai dan memiliki startegi militer yang efektif, Raja Sejong juga diberkahi kecerdasan gemilang di bidang ilmu pengetahuan.

Dilahirkan pada 1397, Sejong The Great yang memiliki nama asli Yido telah menciptakan karya besar dan abadi bagi rakyat Korea, Huruf Hangul. Inilah aksara yang dikemudian hari terus digunakan bangsa Korea untuk menulis ataupun membaca. Inilah aksara yang menggantikan aksara Cina yang dianggap selalu gagal mengekspresikan emosi rakyat Korea dalam tulisan.

Raja Sejong selalu mengatakan pada rakyatnya, bahwa aksara yang digunakan dalam bahasa Korea sama sekali berbeda dengan aksara yang digunakan dalam bahasa Cina. Maka di tahun 1446, untuk pertamakalinya Raja Sejong mempublikasikan 28 huruf Hangul dan berhasil membukukannya dalam kitab Hunim Jeongeum. Hangul pun dikenal sebagai huruf yang diciptakan dengan cara paling scientis sepanjang sejarah asia.

Inilah huruf yang diciptakan pertama kali melalui penelitian medalam.Sebelum menciptakan huruf-huruf ini Sejong melakukan riset besar dengan cara meneliti, menghampiri, bahkan memegang sendiri rahang ataupun mulut rakyatnya. Ia melihat bagaimana sebuah huruf diucapkan, dan dari mana suara huruf tersebut berasal. .

Ia pula yang mengumpamakan huruf Hangul diwakilkan oleh tiga bentuk utama penunjang pemerintahan yaitu, Manusia (Saram) diperuntukkan bagi huruf yang ditulis berdiri (ex: ᅵᅡᅥᅧᅣ), Bumi (Jigu) diperuntukkan bagi huruf yang ditulis melintang atau tidur (ex: ᅳᅮᅲᅩᅳ) dan Langit (Haneul) diperuntukkan bagi huruf yang ditulisnya menggunakan garis di samping atau di bawah (ex: ᅮᅲᅩᅡᅥᅧᅣ).

Raja Sejong pula yang berhasil menggambarkan beberapa huruf sesuai dengan letak dimana suara huruf itu berasal. Misalnya, bentuk huruf ᆨ(ga/ka) yang menggambarkan jalan keluar suara "K" antara langit-langit dan tenggorokan. Atau pula huruf ᄆ(ma) atau ᄇ(ba) yang merupakan gambaran mulut manusia ketika mengucapkan dua aksara itu.

Hanya itu sepenggal sejarah yang bisa saya tuliskan sedikit mengenai Sejong dan penciptaan huruf nasional Korea, Hangul. Mudah-mudahan ditulisan selanjutnya saya bisa menggamblangkan bagaimana karya-karya spektakuler Sang Raja bersosok langit itu. Kenapa saya menyebutnya dengan Raja bersosok langit? walau dia duduk di bawah, bercampur baur dengan rakyat jelata, ia tetap langit. Bagaimanapun, di atas langit ada langit, tapi langit tidak pernah jatuh ke bumi, dan Sejong adalah langit bagi saya.

Selasa, 18 Januari 2011

Cheomseongdae Si Menara Penangkap Bintang


Kembali menceritakan Gyeongju, kota tua tempat kerajaan Silla pernah berkuasa terdapat menara pengamat bintang tertua di Asia Timur bernama Cheomseongdae. Dibangun saat pemerintah Ratu Seondeok tahun 632-649Masehi. Menara ini membantu petani mengamati pergantian musim, berdasarkan perubahan formasi bintang.

Dilihat dari mata biasa, situs sejarah nomor 33 yang didaftarkan ke UNESCO World Herritage oleh pemerintah Korea ini tampak biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa selain bentuknya yang seperti vas bunga. Tapi bila dihitung secara seksama, jumlah batu yang disusun tanpa perekat itu memiliki konstruksi yang simetris hingga berdiri kokoh setinggi 9,4 meter.

Keunikan lain, jumlah susunan batu melingkar di bagian atas bangunan ini mencapai 27 buah. Susunan itu diasosiasikan sebagai urutan Ratu Seondeok, sebagai pemimpin ke 27 Dinasti Silla. Sedangkan secara vertikal, dari tengah ke bawah, 12 batu besar yang menjadi pondasi bangunan itu diasosiasikan sebagai jumlah tahun dalam perhitungan kalender Cina.

Menurut kitab Sejarah Samguk Sagi dan Samguk Yusa, Ratu Seondeok merupakan pemimpin perempuan pertama Korea dan menjalankan pemerintahan berdasarkan ilmu pengetahuan. Di jaman Ratu Seondeok perhitungan ilmu alam diterapkan dalam mengolah lahan pertanian.

Maka sejak dibangun menara pengamat bintang itu, hasil pertanian di Gyeongju melimpah ruah. Hingga sekarang, pertanian menjadi sumber mata pencarian utama masyarakat Gyeongju, selain industri pariwisata.

Kamis, 23 Desember 2010

Saving Private Jae Hyeon




Beruntung sekali saya, 9 Agustus 2010 lalu dapat kesempatan berkunjung ke Desa Panmunjeom, Joint Security Area (JSA) perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara.Aturan yang ketat dan masalah kepemilikan paspor membuat tiga teman saya tidak bisa ikut ke tempat yang tidak semua orang bisa kesitu. Teman dari Thailand dan Pakistan tidak bisa ke sana dengan alasan Paspor sudah kadaluarsa.

Tapi yang satu lagi alasannya yang cukup aneh. Teman dari Korea tidak bisa masuk karena memakai rok pendek. Kenapa aneh, karena dia berkeras tidak mau menggantinya dengan celana panjang atau jeans. Kenapa perempuan yang berkunjung ke sana tidak boleh memakai pakaian pendek atau tidak berlengan? kata panitia yang mengajak saya, di Panmunjeom itu penghuninya lelaki semua, yang lagi wajib militer selama 3 tahun.

Selama itu mereka tidak pernah melihat perempuanberpakaian minim, semisal rok pendek, atau baju tanpalengan. "yeaah kami khawatir mereka bisa sedikitmmm..terganggu konsentrasinya ...," kata Kim dari 518 Foundation.--sayangnya kim tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan "terganggu konsentrasi" lebih lanjut.

Padahal menurut saya, tentara Korsel dan Korut itu cukup manis loh perilakunya.Mereka cuma diam aja kok kayak patung. Paling hanya ada satu orang yang iseng dadah-dadah ke saya, itupun sesudah saya meninggalkan perbatasan Panmunjeom menuju Imjigak. Ada juga aturan yang menurut saya rada aneh, dilarang melambaikan tangan selama kami berkunjung ke Panmunjeom. Kami harus berbaris dan melangkah bersamaan seperti tentara. Tapi, kami boleh mengambil gambar dengan kamera. "Sebab kalau melambaikan tangan dianggap memberi suatu tanda," kata Maria.

Dan yang paling aneh, kami tidak boleh memakai sepatu jenis Sneakers, tapi ada yang boleh memakai sandal.. aneh...apakah tentara Korut itu dari jauh bisa ya melihat kami pakai Sneakers? *mirip aturan dosen bahasa Belanda saya dulu--gak boleh pakai bolpen item*

Dari semua itu, yang paling manis adalah perkenalan saya dengan seorang prajurit berusia 23 tahun bernama Kim Jae Hyeon. Dia yang menjadi pemandu kami selama di 2 jam di Panmunjeom. Dia bilang sudah 1,5 tahun berdinas di JSA. Penampakan fisik cukup menarik, tingginya sekitar 185 sentimeter. Saya hanya sebahunya saja. Awal bertemu, dia nyaris tanpa ekspresi. Tidak pernah tersenyum, dan kaca mata hitamnya selalu nempel tuh di matanya. Bahkan, ketika dia memeriksa seluruh paspor rombongan saya. *saya cuma mikir, waktu itu kan mendung ya, apa dia keliatan?

Sampai pada giliran saya, dia memperhatikan cukup lama dari atas ke bawah, bawah ke atas. Mungkin karena hanya saya yang memakai jilbab. Tiba-tiba dia meminta saya menyingkirkan jilbab sambil menunjuk ke dada saya.."What..???" saya bilang, "Kurang ajar nih orang, maksudnye ape nih mas???" dalem hati saya udah sewot duluan. Tapi dia buru-buru bilang "I need to see you ID, please pull of your veil,".. ehehehe rupanya ID Card saya ketutupan kerudung, maaf deh ya mas.

Masih dengan muka dingin dan kaca mata yang tidak dilepas sama sekali, dia menjadi guide kami selama di Panmunjeom. Keluar masuk gedung biru, foto-foto di depan gedung biru, foto-foto ke arah Korea Utara, foto-foto dekat jembatan penyesalan, tetep aja itu kaca mata item kagak pernah dilepas.

Semua baru berubah dan lebih cair ketika kunjungan perbatasan selesai. Di tengah perjalanan menuju batas aman Panmunjeom, beberapa peserta jahil mengambil foto dia berkali-kali sambil bilang "smile..come on soldiers..smile". Kayaknya gak tahan juga, akhirnya dia senyum, dan ternyata manisssss... :D :D (tetep masih pake kaca mata item).

Sesampainya di tempat transit yang ada tokocinderamatanya, (kami harus berganti bus di sebuah tempat transit, ketika memasuki wilayah Panmunjeom) Si mas ini baru mencopot kaca mata hitamnya. Daaaaan, Masyaaa Allah, matanya sipit seperti saya, dan gak ada ganteng-gantengnya sama sekali.

Ketika saya lihat hasil foto bareng kami, saya bener-bener gak abis pikir... kok bisa ya mirip begini??? kalo di sinetron kayak keluarga yang terpisah dan lama gak ketemu. (sempet mikir jangan-jangan nih anak?? adik saya yang dibuang, apa gimanaa...gitu), Kami bener-bener mirip ... :(

Walaupun pertama kali bertemu, dan mungkin untuk terakhir kalinya, dalam hati kecil saya berharap, sodara dadakan saya itu selamat...dan perang saudara segera berakhir 김 재 현, 네가 너를 저장 바라요

Minggu, 14 November 2010

Pedang Tanpa Nama Untuk Myeongseong



Lady Myeongseong tidak pernah mau tunduk pada kekaisaran Jepang. Teman-temannya perempuan berbagai macam bangsa. Sahabatnya orang Perancis, yang memperkenalkannya dengan korset. Sikapnya itu membuat dia mati di ujung samurai intel Jepang tahun 1895, sebagai ratu terakhir yang ikut memerintah Korea setelah Seondeok dan Jindeok.

Meskipun terlahir bukan dari keturunan ningrat, kelakuan dan sikap Lady Myeongseong lebih mulia dari golongan ningrat. Sayangnya, Myeongseong punya suami Raja Gojong dari golongan ningrat yang sikapnya tidak ningrat sama sekali. Setelah dia terbunuh, Raja Gojong tidak pernah lagi kembali ke Istana Gyeongbok, istana langit yang terletak di pusat jantung kota Seoul ini tidak berpenghuni setelah Myeongseong terbunuh.

Sepenggalan sejarahnya difilmkan di "The Sword With No Name" tapi sayangnya, lebih ditonjolkan romance-nya dari pada sejarahnya. Sebagai penyuka sejarah, saya mendapatkan sedikit sekali informasi soal Myeongseong. Tidak seperti Seondeok, yang bahkan sampai bisa saya kunjungi makamnya di Gyeongju. Myeongseong hanya saya dapatkan infonya sekilas. Tapi informasi yang ada dalam wikipedia sangat jelas. Di wikipedia digambarkan kisah hidupnya yang dramatis, politis, separatis, sekaligus reformis yang berakhir di ujung pedang, seorang mata-mata Jepang.

Tapi saya suka, kisah percintaan Myeongseong dalam "The Sword of No Name". Kisah cintanya dengan pengawal pribadi yang bahkan mencintainya semenjak Myeongseong belum menjadi Ratu (saat masih memakai nama Min Ja Young). Seperti kebanyakan film-film Korea yang romantis banget, sedih banget, heroik banget dan terkadang lebay banget. Saya pun banjir air mata melihat Myeongseong mati pasang badan di depan tubuh Mu Myoung (body guard sekaligus
cintanya).

Mu Myoung (artinya tanpa nama, karena kisah percintaan mereka fiksi), sungguh pemuda idaman para perempuan. Pria bermuka lucu, gentleman, berbadan tinggi tegap, tapi polos. Cintanya untuk Myeongseong tidak pernah terbayar saat dia hidup. Cinta baru menunjukkan kekuatannya ketika mereka berdua menghadapi sakaratul maut (yah dari pada nggak sama sekali kan??? mungkin begitu pikir sutradara)

Kisah ini hampir mirip dengan sinetron Queen Seondeok dan Sangdadeung Bidam. Pas mereka mati, baru ada yang sadar salah satu dari mereka, kalau mereka saling mencintai (capee deeh).

Kembali ke track sejarah, film ini jadi mengingatkan saya akan kisah renovasi istana Gyeongbok. Istana langit ini sempat ditinggalkan raja dan keluarganya. Hingga dikuasai Jepang untuk beberapa tahun. Tapi, dengan keuletan abdi dalem dan para pegawai istana, Istana Langit itu tetap bisa berdiri. Dan setelah Korea merdeka, istana itu kini terbangun kembali.

Dalam sejarah asli yang digambarkan Misionaris Amerika, Lilias Underwood, bahwa Sang Ratu adalah perempuan yang sangat menonjolkan kecerdasan dan kekuatan karakternya, dari pada kecantikannya. Dia jarang menggunakan anting dan perhiasan di tubuhnya. Dia ikut berpolitik dan lawan politiknya yang paling besar adalah ayah mertuanya sendiri, yang bekerja untuk Jepang, Heungseon Daewongun.

Jumat, 12 November 2010

Sejong dan Istana Langit


Matahari di Seoul, bersinar gahar, menciptakan warna putih di tengah lapang. Sejumlah anak muda dan fotografer berhamburan di depan taman Sejong. Kebanyakan sibuk mengambil gambar patung besar Raja Sejong yang sedang duduk di atas kursi kekaisarannya.

Patung itu berada di pusat kota Seoul. Tepatnya berada pada titik persilangan antara Istana Gyeongbok di sebelah utara, Kedutaan Amerika di sebelah barat, Gedung Sejong Center di sebelah selatan, dan Center Government Complex Anex di sebelah barat.

Statuta Raja Sejong ini dibangun Pemerintah Korea untuk menghormati jasanya dalam penciptaan Hangul. Huruf yang hingga kini digunakan baik di Korea Selatan maupun Korea Utara. Museum Raja Sejong yang dibangun di bawah Sejong Park secara gratis menawarkan teknologi yang mempermudah mengingat sejarahnya.

Mulai dari film yang menceritakan perjuangan Raja Sejong menemukan huruf Hangul, hingga lukisan Raja Sejong yang dapat berbicara. Lukisan itu dibuat animator Korea lengkap dengan jubah, mahkota dan kursi kekaisaran. Sejong seolah-olah hidup, memiliki sorot mata, dan berkata-kata.

“Bahasa bangsa Han berbeda dengan bahasa bangsa Cina, huruf Hanja tidak sesuai dengan pengucapan bangsa Han, karena itu, rakyat tercinta saya yang belum bisa membaca tidak bisa menuangkan perasaan mereka ke dalam tulisan,” ucap Raja Sejong dalam sebuah lukisan tiga dimensi yang seolah hidup.

Lahir di tahun 1397, Sejong yang menjadi raja ke-4 di Dinasti Joseon khawatir rakyatnya tidak bisa mengekspresikan perasaan melalui huruf Hanja, huruf Cina yang biasa digunakan warga Korea saat itu untuk menulis. Kata-kata dalam lukisan hidup Raja Sejong itu merupakan pidato yang diucapkan Sejong saat pengesahan huruf Hangul di tahun 1443.

Dalam museum itu juga diceritakan bagaimana Sejong menciptakan huruf Hangul dengan meneliti fonetika dan cara pengucapan bahasa Korea oleh rakyatnya. Sejong kemudian menciptakan penampang kerongkongan manusia dari kayu, yang menggambarkan secara detail analogi dari kerongkongan dan pita suara.

Sejak itulah Raja Sejong tidak kesulitan mengidengtifikasi suara apa yang keluar dari mulut rakyatnya, dan diwujudkan dalam satu bentuk aksara. Misalnya ketika mengambil aksara Ka, sejong menggambarkannya dengan huruf berbentuk alur kerongkongan manusia. Alasannya suara Ka keluar dari kerongkongan dan langit-langit mulut.

Selain lukisan hidup Sejong, ada pula permainan game di museum tersebut yang menggunakan teknologi tiga dimensi. Permainan game itu berupa mengayuh perahu yang menceritakan peperangan Panglima Angkatan Laut, Yi Sun Sin melawan angkatan laut Jepang dengan kapal kura-kuranya.

***

Waktu menunjukkan pukul 14.00 waktu Seoul. Sudah saatnya penjaga Istana Gyeongbok bertukar tugas jaga. Lima belas orang pengawal berpakaian merah-biru-kuning bersiap melakukan apel. Sebelum ganti jaga mereka wajib patroli keliling istana dengan berbaris rapi, sambil memainkan musik tradisional Korea, Nongak Nori.

Irama musiknya tidak teratur, tapi langkah-langkah penjaga istana itu betul-betul rapi. Tidak ada satupun formasi yang terselip dari langkah mereka. Ekspresi peniup Daegeum (suling besar), pemukul Pungmul Janggo (genderang berbentuk jam pasir), dan Jing (Gong) semuanya sama. Rata, tidak ada satupun yang tersenyum.

Sekilas mata memandang, para penjaga istana terlihat sudah tua. Namun ketika beberapa orang sudah berganti kostum, mereka terlihat sama sekali berbeda. Penjaga istana itu adalah anak-anak muda berusia 20-30 tahun. Rupanya mereka berdandan dengan kumis-jenggot tempelan, serta baju yang berlapis-lapis agar terlihat lebih tua.

“Menjadi penjaga istana ini adalah kerja sampingan saya selain kuliah,” ujar salah satu penjaga istana bernama Han. Menurut Han, menjadi penjaga istana menghasilkan uang yang tidak banyak. Tapi keuntungan menjadi penjaga istana, dapat mengetahui lebih banyak soal sejarah dan budaya tradisional Korea.

Melamar segabai penjaga istana menurut Han tidak mudah. Ada persyaratan tinggi dan berat badan yang harus dipenuhi, layaknya seleksi militer. “Minimal tinggi badan harus 185 centimeter dengan berat proporsional,” ujarnya.

Kesehatan fisik dan mental penjaga istana juga harus di atas rata-rata. Meski tidak dituntut untuk berperang atau menjaga istana dalam arti sebenarnya, tapi para penjaga ini diwajibkan berdiri berjam-jam tanpa boleh bergerak sedikitpun. “Harus diam, menggaruk pun hanya boleh kalau terpaksa,” ujar Han.

Han mengaku, yang paling sulit dilakukan adalah harus berdiri diam, sementara pengunjung perempuan yang seusia dengannya mencoba menggoda ketika mengambil foto.” Padahal tidak diperbolehkan menyentuh penjaga istana dan ada petugas yang bekerja untuk memperingatkan hal itu ,” kata Han. “Namun masih saja ada yang mencoba bergelayut manja” tambah Han setengah tersenyum.

Kerja magang menjadi penjaga istana merupakan salah satu program pemerintah Korea Selatan melestarikan kebudayaan tradisional dan sejarah Istana Gyeongbok kepada anak muda di Seoul. Dampak globalisasi di Seoul menggeser sedikit cara berpikir muda-mudi di kota yang tidak terlalu heterogen itu. “Sekarang anak muda di Seoul lebih senang budaya Amerika dan Eropa, dari pada budaya sendiri,” ujar seorang Kakek bernama, Shin Hyun Jun.

Kehidupan muda-mudi Seoul yang simpel dan aktif memang membuat jarak dengan kebudayaan tradisional Korea yang cenderung ribet. Inilah yang dirasakan salah satu Mahasiswi Chonnam University, bernama Lynn Jong. Ia termasuk salah satu gadis yang paling enggan memakai pakaian tradisional Hanbok.

Lynn beralasan harga Hanbok mahal sekali. Satu set bisa mencapai 400 ribu Won. “Kalau aku lebih memilih tidak punya Hanbok, dari pada menghabiskan uang yang dikumpulkan berbulan-bulan, hanya untuk pakaian yang belum tentu setahun sekali dipakai, sudah itu dipakainya susah sekali, berlapis-lapis,” ujar Lynn.

Toh pemerintah Korea tidak kekurangan usaha untuk mengenalkan budaya tradisional Korea untuk anak muda di Seoul. Selain program magang sebagai penjaga istana, kunjungan gratis ke istana ,dan foto-foto pakai hanbok menjadi promosi paling moncer.

Lagipula, saat ini Istana Gyeongbok menjadi salah satu tempat pilihan paling romantis bagi muda-mudi Seoul untuk memadu kasih. Apalagi di depan salah satu bangunan Gyeongbok ada pendopo Hyangwonjeong, yang dikelilingi taman air , jembatan tua, dan pepohonan teduh. Padahal tempat itu tertutup untuk umum, tapi tetap saja banyak sekali pasangan yang nongkrong di situ.

Larangan itu sebenarnya karena jembatan melintang ke Hyangwonjong sudah sangat tua. Istana Gyeongbok sendiri dibangun tahun 1394 di atas lahan seluas 410 ribu meter persegi. Gyeongbok berarti Istana yang mendapat berkah dari langit. Istana ini dibangun saat Raja Taejo dari dinasti Joseon memerintah.

Istana ini adalah satu-satunya Istana Kerajaan Korea yang sejumlah bangunannya selamat dari aksi bakar-bakaran Jepang. Saat itu banyak sekali situs bersejarah di Korea yang dibakar Jepang dengan tujuan menghapus jejak Dinasti Joseon.

Keluarga kerajaan terakhir yang menempati istana ini adalah Raja Gojong dan Ratu Myeongseong.Saat itu, Ratu Myeongseong yang ikut menjalankan pemerintahan tidak pernah mau menurut pada Jepang. Akhirnya pada tahun 1895 ia dibunuh oleh intelijen Jepang. Usai insiden itu, Raja Gojong dan keluarga kerajaan lain tidak pernah balik lagi ke istana Gyeongbok.

Istana ini memiliki enam gerbang utama. Gwanghwamun, sebagai gerbang selatan. Heungnyemun dan Geunjeongmun sebagai gerbang dalam, Sinmumun sebagai gerbang utara, Geonchunmun sebagai gerbang timur, dan Yeongchumun sebagai gerbang barat.

Secara tidak langsung, Korea yang juga pernah berada dibawah kekaisaran Dinasti Tang, Cina mengadopsi bentuk istana ini dari Kota Terlarang di Beijing. Hanya saja, Kota Terlarang lebih besar delapan kali lipat bila dibandingkan istana Gyeongbok.
Pemugaran pertama kali terhadap istana ini dilakukan di tahun 1989. Saat itu masih banyak bangunan di Istana Gyeongbok yang belum terekonstruksi. Pemugaran kedua dilanjutkan pada tahun 1995. Saat itu dengan segala perdebatan , gedung Pemerintahan Jepang yang dulu sengaja dibangun di dalam kompleks Istana Gyeongbok langsung dihancurkan.

Di atas bekas lahan gedung Pemerintahan Jepang itulah rekonstruksi ulang gerbang dalam Istana Heungnyemun dilakukan. Dari hasil pemugaran terakhir tahun 2009, 40 persen bentuk asli Istana Gyeongbok sudah berhasil dibangun kembali. Hampir sama seperti 8 abad yang lalu, ketika Raja Taejo membangun 330 bangunan dan 5.792 kamar di dalamnya.

*tulisan ini pernah dimuat di Majalah Tempo loooh hehehee